Sejauh ini, teori mencatat usai Big Bang, alam semesta
merupakan partikel seperti sup panas. Butuh waktu sekitar 380 ribu
tahun untuk mendinginkan partikel yang kemudian membentuk atom. Setelah
atom terbentuk kemudian muncul galaksi dan bintang-bintang.
Para astronom telah merilis temuan yang
mengesankan terkait proses kelahiran alam semesta. Tim peneliti
antariksa dari Harvard-Smithsonian Centre for Astrophysics di
Massachusetts, AS, berhasil mendeteksi masa terawal setelah munculnya
Big Bang, proses tabrakan hebat yang melahirkan alam semesta sekitar
13,8 miliar tahun silam.
Para Peneliti berhasil mendeteksi gelombang gravitasi dari sepermiliar sepertriliun picosecond usai terjadinya Big Bang. Hampir tak terbayangkan, untuk diketahui satu picosecond sama dengan sepertriliun detik. Disebutkan gelombang gravitasi pertama itu dapat mendukung pengetahuan manusia tentang kelahiran alam semesta. Tidak mudah untuk mendapatkan gelombang gravitasi pada masa terawal usai peristiwa Big Bang. Peneliti menggunakan detektor radiasi super sensitif dan kemudian memasangkan teleskop radio BICEP2 di Kutub Selatan. Fasilitas ini sudah bekerja sejak sembilan tahun lalu.
Setelah hampir satu dekade berjalan, peneliti kemudian menemukan titik terang pencarian. Mereka berhasil menemukan pola-pola berputar pada radiasi berlatar belakang kosmik yang tercipta dari gelombang gravitasi yang disebabkan awal pembentukan alam semesta. Sontak saja temuan gelombang gravitasi terawal usai Big Bang itu menggemparkan dunia fisika.
Para Peneliti berhasil mendeteksi gelombang gravitasi dari sepermiliar sepertriliun picosecond usai terjadinya Big Bang. Hampir tak terbayangkan, untuk diketahui satu picosecond sama dengan sepertriliun detik. Disebutkan gelombang gravitasi pertama itu dapat mendukung pengetahuan manusia tentang kelahiran alam semesta. Tidak mudah untuk mendapatkan gelombang gravitasi pada masa terawal usai peristiwa Big Bang. Peneliti menggunakan detektor radiasi super sensitif dan kemudian memasangkan teleskop radio BICEP2 di Kutub Selatan. Fasilitas ini sudah bekerja sejak sembilan tahun lalu.
Setelah hampir satu dekade berjalan, peneliti kemudian menemukan titik terang pencarian. Mereka berhasil menemukan pola-pola berputar pada radiasi berlatar belakang kosmik yang tercipta dari gelombang gravitasi yang disebabkan awal pembentukan alam semesta. Sontak saja temuan gelombang gravitasi terawal usai Big Bang itu menggemparkan dunia fisika.
"Ini
sungguh luar biasa. Ini mengonfirmasi ide yang aneh. Selanjutnya, sudah
lebih jelas untuk dikonfirmasi dengan teknologi lain," ujar Profesor
Peter Ade, peneliti yang membantu membangun instrumen pendeteksi
gelombang. Ade pun mengatakan, peneliti di balik temuan ini sangat pantas mendapatkan Nobel Fisika. "Ini
yang saya sebut sebagai pemenang Nobel fisika. Yang perlu diperdebatkan
hanyalah siapa yang pantas mendapatkan nobel," ujar dia.
Temuan akan duji oleh peneliti dan ahli lain untuk memantapkan temuan.
Sejauh ini, teori mencatat usai Big Bang, alam semesta merupakan partikel seperti sup panas. Butuh waktu sekitar 380 ribu tahun untuk mendinginkan partikel yang kemudian membentuk atom. Setelah atom terbentuk kemudian muncul galaksi dan bintang-bintang. Berjalan miliaran tahun, barulah muncul planet-planet yang terbentuk dari gas dan debu. Seiring terbentuknya planet maka bagian kecil alam semesta mulai terbentuk dan kian menyebar.
Temuan akan duji oleh peneliti dan ahli lain untuk memantapkan temuan.
Sejauh ini, teori mencatat usai Big Bang, alam semesta merupakan partikel seperti sup panas. Butuh waktu sekitar 380 ribu tahun untuk mendinginkan partikel yang kemudian membentuk atom. Setelah atom terbentuk kemudian muncul galaksi dan bintang-bintang. Berjalan miliaran tahun, barulah muncul planet-planet yang terbentuk dari gas dan debu. Seiring terbentuknya planet maka bagian kecil alam semesta mulai terbentuk dan kian menyebar.
Dengan demikian, temuan astronom itu sangat istimewa dalam upaya menguak proses terbentuknya alam semesta. Menariknya lagi, dalam menemukan gelombang gravitasi itu, peneliti Harvard - Smithsonian Center, hanya memindai dua persen dari seluruh hamparan alam semesta dalam waktu tiga tahun belakangan ini.
Ahli fisika dari Arizona State University, Lawrence Krauss menuturkan, kemungkinan pola gelombang cahaya yang menguak gelombang gravitasi itu bisa saja bukan tanda reaksi usai Big Bang. Namun, ia tidak memungkiri bahwa temuan gelombang gravitasi itu susah terbantahkan.
"Ini menjadi harapan terbaik kami untuk menguji langsung apakah terjadi lonjakan pertumbuhan yang sangat cepat," jelas Krauss.
Temuan baru itu diumumkan oleh sebuah kolaborasi peneliti dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, University of Minnesota, Stanford University, California Institute of Technology dan Jet Propulsion Laboratory NASA. Pemimpin studi, John Kovac dari unsur Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics menjelaskan, temuan ini akan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah pekan ini.


JUDI ONLINE PAKAI OVO - GOPAY PULSA T-SEL XL
ReplyDeleteMerdeka Deposit Min Rp.200.000 Bonus 17.000
Merdeka Deposit Min Rp.500.000 Bonus 45.000
WhastApp : 0812-9608-9061
Lnk : WWW. POKERAYAM. TOP
MAIN JUDI ONLINE Menggunakan Pulsa T-SEL & XL
ReplyDeleteTexas Hold'em Poker,
Capsa Susun, Bandar Poker, Domino QQ, Adu Q, dan Bandar Q.
Permainan games online lain seperti
Sabung Ayam S1288, CF88, SV388, Sportsbook, Casino Online, Togel Online, Bola Tangkas Slots Games, Tembak Ikan, Casino Games juga Tersedia di Website PokerVita.fun
Hubungi customer service officer kami
Whatsapp : +62 812-222-2996
WWW.POKERVITA.FUN